KEPERAWATAN ANAK
“HIRSCHPRUNG”
DISUSUN OLEH:
DAVID SAPUTRA
NIM: 14111904
Dosen Pembimbing :
Ns. VIKI YUSRI S,kep
PROGRAM
STUDI D. III KEPERAWATAN
STIKes
MERCUBAKTIJAYA PADANG
2015/ 2016
KATA
PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur
ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, kami telah dapat menyelesaikan makalah dengan
judul”MAKALA HIRSCHPRUNG”. Tujuan kami
membuat makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen serta menambah pengetahuan kami tentang keperawatan.
Meskipun kami telah berusaha segenap kemampuan, namun
kami menyadari bahwa makalah kami belum sempurna. Oleh karena itu segala saran
dan kritik yang diberikan akan kami sambut dengan kelapangan hati guna
perbaikan pada masa yang akan datang.
Akhir kata kami berharap semoga
makalah ini dapat memberi nilai tambah bagi kami semua yang memanfaatkannya.
Padang, Oktober 2016
DAVID SAPUTRA
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................
i
DAFTAR
ISI..................................................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang.......................................................................................................iv
B.
Tujuan...................................................................................................................iv
BAB II TINJAUAN TEORI
1. Definisi...............................................................................................................
1
2. Etiologi...............................................................................................................
2
3. Patofisiologi.......................................................................................................
3
4. Manifestasi
klinis...............................................................................................
3
5. Tanda dan
gejala................................................................................................
3
6. Pemeriksaan
diagnostik.....................................................................................
5
7. Penatalaksanaan................................................................................................
5
8. WOC.................................................................................................................
7
ASKEP TEORITIS
Pengkajian...................................................................................................................
8
Pemeriksaan
fisik........................................................................................................
8
Diagnosa
keperawatan................................................................................................
8
Intervensi....................................................................................................................
9
BAB III
PENUTUP
§
Kesimpulan..............................................................................................................
13
§
Saran........................................................................................................................
13
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................................14
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit hisprung merupakan suatu kelainan bawaan yang
menyebabkan gangguan pergerakan usus yang dimulai dari spingter ani internal ke
arah proksimal dengan panjang yang bervariasi dan termasuk anus sampai rektum.
Penyakit hisprung adalah penyebab obstruksi usus bagian bawah yang dapat muncul
pada semua usia akan tetapi yang paling sering pada neonatus.
Penyakit hisprung juga dikatakan sebagai suatu kelainan kongenital dimana
tidak terdapatnya sel ganglion parasimpatis dari pleksus auerbach di kolon,
keadaan abnormal tersebutlah yang dapat menimbulkan tidak adanya peristaltik
dan evakuasi usus secara spontan, spingter rektum tidak dapat berelaksasi,
tidak mampu mencegah keluarnya feses secara spontan, kemudian dapat menyebabkan
isi usus terdorong ke bagian segmen yang tidak adalion dan akhirnya feses dapat
terkumpul pada bagian tersebut sehingga dapat menyebabkan dilatasi usus
proksimal.
Pasien dengan penyakit hisprung pertama kali dilaporkan oleh Frederick
Ruysch pada tahun 1691, tetapi yang baru mempublikasikan adalah Harald
Hirschsprung yang mendeskripsikan megakolon kongenital pada tahun 1863. Namun
patofisiologi terjadinya penyakit ini tidak diketahui secara jelas. Hingga
tahun 1938, dimana Robertson dan Kernohan menyatakan bahwa megakolon yang
dijumpai pada kelainan ini disebabkan oleh gangguan peristaltik dibagian distal
usus defisiensi ganglion.
Penyakit hisprung terjadi pada 1/5000 kelahiran hidup. Insidensi hisprung
di Indonesia tidak diketahui secara pasti, tetapi berkisar 1 diantara 5000
kelahiran hidup. Dengan jumlah penduduk Indonesia 200 juta dan tingkay
kelahiran 35 permil, maka diprediksikan setiap tahun akan lahir 1400 bayi
dengan penyakit hisprung.
Insidens keseluruhan dari penyakit hisprung 1: 5000 kelahiran hidup,
laki-laki lebih banyak diserang dibandingkan perempuan ( 4: 1 ). Biasanya,
penyakit hisprung terjadi pada bayi aterm dan jarang pada bayi prematur.
Penyakit ini mungkin disertai dengan cacat bawaan dan termasuk sindrom down,
sindrom waardenburg serta kelainan kardiovaskuler.
Selain pada anak, penyakit ini ditemukan tanda dan gejala yaitu adanya
kegagalan mengeluarkan mekonium dalam waktu 24-48 jam setelah lahir, muntah
berwarna hijau dan konstipasi faktor penyebab penyakit hisprung diduga dapat
terjadi karena faktor genetik dan faktor lingkungan.
Oleh karena itu, penyakit hisprung sudah dapat dideteksi melalui
pemeriksaan yang dilakukan seperti pemeriksaan radiologi, barium, enema, rectal
biopsi, rectum, manometri anorektal dan melalui penatalaksanaan dan teraupetik
yaitu dengan pembedahan dan colostomi.
B. TUJUAN
Makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi dan menambah pengetahuan
kepada para pembaca khususnya kepada mahasiswa ilmu keperawatan mengenai
penyakit hisprung. Makalah ini juga dibuat untuk memenuhi syarat dalam proses
pembelajaran pada mata kuliah keperawatan anak.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.
KONSEP DASAR
1. Definisi Hisprung
Penyakit Hisprung disebut juga
kongenital aganglionik megakolon. Penyakit ini merupakan keadaan usus besar
(kolon) yang tidak mempunyai persarafan (aganglionik). Jadi, karena ada bagian
dari usus besar (mulai dari anus kearah atas) yang tidak mempunyai persarafan
(ganglion), maka terjadi “kelumpuhan” usus besar dalam menjalanakan fungsinya
sehingga usus menjadi membesar (megakolon). Panjang usus besar yang terkena
berbeda-beda untuk setiap individu.
Penyakit hirschsprung adalah suatu kelainan tidak adanya sel ganglion
parasimpatis pada usus, dapat dari kolon sampai pada usus halus. (Ngastiyah,
1997 : 138).
Penyakit hirschsprung adalah anomali kongenital yang mengakibatkan
obstruksi mekanik karena ketidak adekuatan motilitas sebagian dari usus. (Donna
L. Wong, 2003 : 507).
Macam-macam
Penyakit Hirschprung
Berdasarkan panjang segmen yang terkena, dapat dibedakan 2 tipe yaitu :
Penyakit Hirschprung segmen pendek
Segmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid; ini merupakan 70% dari
kasus penyakit Hirschprung dan lebih sering ditemukan pada anak laki-laki
dibanding anak perempuan.
Penyakit Hirschprung segmen panjang
Kelainan dapat melebihi sigmoid, bahkan dapat mengenai seluruh kolon atau
usus halus. Ditemukan sama banyak pada anak laki maupun prempuan.(Ngastiyah,
1997 : 138)
2. Etiologi Hisprung
Mungkin karena adanya kegagalan sel-sel ”Neural Crest” ambrional yang
berimigrasi ke dalam dinding usus atau kegagalan pleksus mencenterikus dan
submukoisa untuk berkembang ke arah kranio kaudal di dalam dinding usus.
Disebabkan oleh tidak adanya sel ganglion para simpatis dari pleksus
Auerbach di kolon.
Sebagian besar segmen yang aganglionik mengenai rectum dan bagian bawah
kolon sigmoid dan terjadi hipertrofi serta distensi yang berlebihan pada kolon.
(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985 : 1134)
Sering terjadi pada anak dengan ”Down Syndrome”.
Kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi
kraniokaudal pada nyenterik dan submukosa dinding pleksus.
(Suriadi, 2001 : 242).
Tanda
dan Gejala
Tanda dan gejala setelah bayi lahir
Tidak ada pengeluaran mekonium (keterlambatan > 24 jam)
Muntah berwarna hijau
Distensi abdomen, konstipasi.
Diare yang berlebihan yang paling menonjol dengan pengeluaran tinja /
pengeluaran gas yang banyak.
Gejala pada anak yang lebih besar à karena gejala tidak jelas pada waktu lahir.
Riwayat adanya obstipasi pada waktu lahir
Distensi abdomen bertambah
Serangan konstipasi dan diare terjadi selang-seling
Terganggu tumbang karena sering diare.
Feses bentuk cair, butir-butir dan seperti pita.
Perut besar dan membuncit.
3. Patofisiologi
Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan
primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal.
Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada
usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan
tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta
spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses
secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada
saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon (
Betz, Cecily & Sowden).
Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol
kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal. Isi usus mendorong ke segmen
aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya
bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan
menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar ( Price, S & Wilson ).
4. Manifestasi Klinis
Kegagalan lewatnya mekonium dalam 24 jam pertama kehidupan.
Konstipasi kronik mulai dari bulan pertama kehidupan dengan terlihat tinja
seperti pita.
Obstruksi usus dalam periode neonatal.
Nyeri abdomen dan distensi.
Gangguan pertumbuhan.
(Suriadi, 2001 : 242)
Obstruk total saat lahir dengan muntah, distensi abdomen dan ketiadaan
evaluai mekonium.
Keterlambatan evaluasi mekonium diikuti obstruksi periodic yang membaik
secara spontan maupun dengan edema.
Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang
diikuti dengan obstruksi usus akut.
Konstruksi ringan, enterokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam.
Diare berbau busuk dapat menjadi satu-satunya gejala.
Gejala hanya konstipasi ringan.
(Mansjoer, 2000 : 380)
Masa Neonatal :
Gagal mengeluarkan mekonium dalam 48 jam setelah lahir.
Muntah berisi empedu.
Enggan minum.
Distensi abdomen.
Masa bayi dan anak-anak :
Konstipasi
Diare berulang
Tinja seperti pita, berbau busuk
Distensi abdomen
Gagal tumbuh(Betz, 2002 : 197)
Komplikasi
Gawat pernapasan (akut)
Enterokolitis (akut)
Striktura ani (pasca bedah)
Inkontinensia (jangka panjang)
(Betz, 2002 : 197)
Obstruksi usus
Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
Konstipasi
(Suriadi, 2001 : 241)
5. Pemeriksaan Diagnostik
Biopsi isap, yakni mengambil mukosa dan submukosa dengan alat penghisap and
mencari sel ganglion pada daerah submukosa.
Biopsy otot rectum, yakni pengambilan lapisan otot rectum, dilakukan
dibawah narkos. Pemeriksaan ini bersifat traumatic.
Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin dari hasil biopsy asap. Pada
penyakit ini klhas terdapat peningkatan aktivitas enzim asetikolin enterase.
Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsy usus.
(Ngatsiyah, 1997 : 139)
Foto abdomen ; untuk mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.
Enema barium ; untuk mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.
Biopsi rectal ; untuk mendeteksi ada tidaknya sel ganglion.
Manometri anorektal ; untuk mencatat respons refleks sfingter interna dan
eksterna.
(Betz, 2002 : 197).
6. Penatalaksanaan
Pembedahan hirschsprung dilakukan dalam 2 tahap, yaitu dilakukan kolostomi
loop atau double-barrel sehingga tonus dan ukuran usus yang dilatasi dan
hipertropi dapat kembali normal (memerlukan waktu 3-4 bulan), lalu dilanjutkan
dengan 1 dari 3 prosedur berikut :
Prosedur
Duhamel
:Penarikan kolon normal kearah bawah dan menganastomosiskannya dibelakang usus
aganglionik.
Prosedur Swenson
: Dilakukan anastomosis end to end pada kolon berganglion dengan saluran anal
yang dibatasi.
Prosedur saave : Dinding otot dari segmen
rektum dibiarkan tetap utuh. Kolon yang bersaraf normal ditarik sampai ke anus.
Intervensi bedah
Ini terdiri dari pengangkatan ari segmen usus aganglionik yang mengalami
obstruksi. Pembedahan rekto-sigmoidektomi dilakukan teknik pull-through dapat
dicapai dengan prosedur tahap pertama, tahap kedua atau ketiga, rekto
sigmoidoskopi di dahului oleh suatu kolostomi. Kolostomi ditutup dalam prosedur
kedua.
Persiapan prabedah
Lavase kolon
Antibiotika
Infuse intravena
Tuba nasogastrik
Perawatan prabedah rutin
Pelaksanaan pasca bedah
Perawatan luka kolostomi
Perawatan kolostomi
Observasi distensi abdomen, fungsi kolostomi, peritonitis dan peningkatan
suhu.
Dukungan orangtua, bahkan kolostomi sementara sukar untuk diterima.
Orangtua harus belajar bagaimana menangani anak dengan suatu kolostomi.
Observasi apa yang perlu dilakukan bagaimana membersihkan stoma dan bagaimana
memakaikan kantong kolostomi.(Betz, 2002 : 198).
B. ASUHAN
KEPERAWATAN HIRSPRUNG
1. Pengkajian
Informasi identitas/data dasar meliputi, nama, umur, jenis kelamin, agama,
alamat, tanggal pengkajian, pemberi informasi.
-
Keluhan utama
Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat dilakukan
pengkajian, pada klien Hirschsprung misalnya, sulit BAB, distensi abdomen,
kembung, muntah.
-
Riwayat kesehatan sekarang
Yang diperhatikan adanya keluhan mekonium keluar setelah 24 jam setelah
lahir, distensi abdomen dan muntah hijau atau fekal.
Tanyakan sudah berapa lama gejala dirasakan pasien dan tanyakan bagaimana
upaya klien mengatasi masalah tersebut.
-
Riwayat kesehatan masa lalu
Apakah sebelumnya klien pernah melakukan operasi, riwayat kehamilan,
persalinan dan kelahiran, riwayat alergi, imunisasi.
Riwayat Nutrisi meliputi : masukan diet anak dan pola makan anak.
-
Riwayat psikologis
Bagaimana perasaan klien terhadap kelainan yang diderita apakah ada
perasaan rendah diri atau bagaimana cara klien mengekspresikannya.
-
Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan pada orang tua apakah ada anggota keluarga yang lain yang
menderita Hirschsprung.
-
Riwayat social
Apakah ada pendakan secara verbal atau tidak adekuatnya dalam
mempertahankan hubungan dengan orang lain.
-
Riwayat tumbuh kembang
Tanyakan sejak kapan, berapa lama klien merasakan sudah BAB.
-
Riwayat kebiasaan sehari-hari
Meliputi – kebutuhan nutrisi, istirahat dan aktifitas.
2. Pemeriksaan Fisik
-
Sistem integument
Kebersihan kulit mulai dari kepala maupun tubuh, pada palpasi dapat dilihat
capilary refil, warna kulit, edema kulit.
-
Sistem respirasi
Kaji apakah ada kesulitan bernapas, frekuensi pernapasan
-
Sistem kardiovaskuler
Kaji adanya kelainan bunyi jantung (mur-mur, gallop), irama denyut nadi
apikal, frekuensi denyut nadi / apikal.
-
Sistem penglihatan
Kaji adanya konjungtivitis, rinitis pada mata
-
Sistem Gastrointestinal
Kaji pada bagian abdomen palpasi adanya nyeri, auskultasi bising usus,
adanya kembung pada abdomen, adanya distensi abdomen, muntah (frekuensi dan
karakteristik muntah) adanya keram, tendernes.
3. Diagnosa Keperawatan
o
Pre operasi
-
Gangguan eliminasi BAB obstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak
adanya daya dorong.
-
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang
inadekuat.
-
Kekurangan cairan tubuh berhubungan muntah dan diare.
o
Post operasi
-
Gangguan integritas kulit b/d kolostomi dan perbaikan pembedahan
-
Nyeri b/d insisi pembedahan
-
Kurangnya pengetahuan b/d kebutuhan irigasi, pembedahan dan perawatan kolostomi.
4. Intervensi Keperawatan
o
Pre
operasi
1. Dx. Gangguan eliminasi BAB : konstipasitipasi
berhubungan dengan spastis usus dan tidak adanya daya dorong.
NOC
·
Bowel elimination.
·
Hidration.
Kriteria hasil
·
Bebas dari ketidak nyamanan dan konstipasi
·
Mengidentifikasi indikator untuk mencegah konstipasi
·
Feses lunak dan berbentuk
NIC
·
Monitor tanda dan gejala konstipasi.
·
Monitor bisuing usus.
·
Monitor feses, frekuensi, konsistensi, dan volume.
2. Dx. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat.
NOC
·
Nutritional status: Food and Fluit Intake
·
Nutritional status: Nutrien intake
·
Weight control
Kriteria hasil.
·
Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
·
Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
·
Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.
NIC
·
Kaji adanya alergi makanan.
·
Yakinkan pasien diet yang dimakan mengandung tingii serat untuk mencegah
konstipasi.
·
Berat badan pasien dalam batas normal
3. Dx. Kekurangan cairan tubuh berhubungan muntah dan
diare.
NOC
·
Fluid balance
·
Hidration
·
Nutritional status
Kriteria hasil.
·
Mempertahankann urin output sesuai dengan usia dan BB, BJ, urin normal.
·
Tekanan darah, nadi suhu tubuh, dalam batasnormal.
·
Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisias turgor kulit baik, tidak ada
rasa haus yang berlebihan.
NOC
·
Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.
·
Monitor vital sign.
·
Berikan cairan intravena
o
Post
operasi
1. Dx. Gangguan integritas kulit b/d kolostomi dan
perbaikan pembedahan
NOC
·
Tissue integrity: skin and mucous membranes.
·
Hemodyalis akses.
Kriteria hasil.
·
Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya
cedera berulang.
·
Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan
alami.
NIC
·
Membersihkan, memantau danmeningkatkan proses penyembuhan pada luka yang di
tutup dengan jahitan, klip atau straples.
·
Monitor proses kesembuhan area insisi.
·
Monitor tanda dan gejala infeksi pada area insisi.
2. Dx. Nyeri b/d insisi pembedahan
NOC
·
Pain level.
·
Pain control.
·
Comfort level.
Kriteria hasil.
·
Mampu mengontrol nyeri.
·
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri.
·
Mampu mengenali nyeri. (frekuensi dan tanda nyeri)
·
Menyatakan rasa nyaman setlah nyeri berkurang.
NIC
·
lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presitipasi.
·
Gunakan teknik komunaksi terapuitik untuk mengetahui pengalaman nyeri
pasien.
·
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.
·
Beri analgetik untuk mengurangi nyeri.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Penyakit hisprung merupakan penyakit yang sering menimbulkan masalah. Baik
masalah fisik, psikologis maupun psikososial. Masalah pertumbuhan dan
perkembangan anak dengan penyakit hisprung yaitu terletak pada kebiasaan buang
air besar. Orang tua yang mengusahakan agar anaknya bisa buang air besar dengan
cara yang awam akan menimbulkan masalah baru bagi bayi/anak. Penatalaksanaan
yang benar mengenai penyakit hisprung harus difahami dengan benar oleh seluruh
pihak. Baik tenaga medis maupun keluarga. Untuk tecapainya tujuan yang
diharapkan perlu terjalin hubungan kerja sama yang baik antara pasien,
keluarga, dokter, perawat maupun tenaga medis lainnya dalam mengantisipasi
kemungkinan yang terjadi.
B. SARAN
Kami berharap setiap mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang
penyakit hsaprung. Walaupun dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh
dari kesempurnaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Warner B.W.
2004. Chapter 70 Pediatric Surgery in TOWNSEND SABISTON TEXTBOOK of SURGERY. 17th edition.
Elsevier-Saunders. Philadelphia. Page 2113-2114
Holschneider A., Ure B.M., 2000. Chapter 34
Hirschsprung’s Disease in: Ashcraft Pediatric Surgery 3rd edition
W.B. Saunders Company. Philadelphia. page 453-468
Hackam D.J., Newman
K., Ford H.R. 2005. Chapter 38 Pediatric Surgery in: Schwartz’s PRINCIPLES OF SURGERY. 8th edition.
McGraw-Hill. New York. Page 1496-1498
Behrman, Kliegman, Arvin 2000. Nelson Textbook of Pediatrics edisi 15,
Jakarta:EGC.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar